Rabu, 01 Juni 2011

DULU
aq kngen akan diri mue
senyum mue slalu membayangi sepi

kmn kc diri ini akn mngadu
krna diri q sngt khilangan diri mue

mngkin aq tdk bisa membahgia kn mue scara materi..
tp aq akn slalu brusaha membahgia kn dri mue bgaimana pun cra nya..
walaupun nyawa sebagai truhan nya..

apa kc pngorbanan diri q masih kurang..
nyawa q sudah hampir melayang gara gara ingin menyelamat kn dri mue..
tp aq tdk memikir kn resiko nya..
krna yg q mau agar diri mue bisa selamat tnpa ada cacat sdikit pun..

ingat kc janji mue yg dulu..
kau bilang kau kn stia kpd q..
tp semua itu hnya OMONG DOANG..

SEKARANG
aq akn berusaha MELUPAKAN DIRI MUE..
aq akn membuka hati q buat orang lain..

SELAMAT TINGGAL MASA LALU
SELAMAT DATANG MASA DEPAN

SEBUAH CATATAN TENTANG PLAGIARISME KARYA CIPTA LAGU: Benarkah D’Masiv Band Plagiat?

24 April 2009, bertempat di Balai Sarbini Plaza Semanggi, Setelah membacakan para Nominator, dengan lantang lalu diumumkanlah “Kategori Album Terbaik 2009 adalah……..”The Special One” YOVIE & NUNO…!!!” Segeralah Yovie Widianto, Dudi, Dikta, dan Diat segera naek ke atas panggung untuk menerima penghargaan tersebut, hingga kemudian Yovie, sang leader mengucap seraya kaget melihat trophy:”Ini bener Anugerah Musik Indonesia kan? Bukan anugerah musik Melayu…?” sebuah sindiran yang cukup menghenyakkan seisi gedung (terlebih ST 12, yang sebelumnya didaulat sebagai Band Terbaik 2009, mengalahkan Yovie & Nuno). Tak berhenti di situ, di kesempatan lain, dengan venue yang sama, Yovie kembali berujar: “yang terpenting ialah kami mampu menghasilkan karya yang orisinil dan tidak menjadi Band Plagiat”. Dua “scene” itu merupakan bagian dari sebuah rutin besar, bahkan mungkin yang terbesar dalam ranah Musik di Indonesia, yakni Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2009. Dua sindiran yang dilontarkan oleh Yovie Widianto sebagai musisi kawakan malam itu sepertinya cukup menutup megahnya pagelaran acara dengan tembakan-tembakan sindiran yang sesungguhnya sudah sangat sering ia lemparkan sebelum bahkan sesudah ajang tersebut, dan tersangkanya ialah satu: D’Masiv, band pendatang baru yang menuai sukses dalam debutnya. Pertanyaannya, benarkan yang dilakukan oleh D’Masiv merupakan salah satu bentuk plagiasi karya musik? Sepertinya untuk menilai hal tersebut tak semudah melemparkan tudingan layaknya yang dilakukan oleh Yovie. Sesungguhnya bukan hanya Yovie Widianto yang menuding Band D’Masiv sebagai plagiator, banyak insan musik hingga media yang turut memojokan D’Masiv sebagai band peniru lagu-lagu musisi luar negeri, meskipun tidak se-intens dan se-pedas tudingan-tudingan Yovie, yang membuat saya takjub, koq bisa ya seniman melemparkan tudingan sporadik semacam itu? Berjuang atas nama orisinalitas kaum atau iri dengan kesuksesan Band-band fresh yang melesat bak Apollo 11?