Jumat, 20 Mei 2011

WAWANCARA EXLUSIF D’MASIV DALAM BUKU ‘MUSIC SCORES’ PART 3

Terus kalau masalah royalitinya bagaimana?. Karena jika dilihat dari pembagian hak intelektualnya, pasti “alirannya” lebih banyak ke rian semua nantinya. Saya kurang tahu perihal internal d’Masiv, tapi ada beberapa band lain yang saya tahu lebih suka membagi rata hal seperti itu demi menjaga keutuhan band. Kalau, boleh tahu, apakah kalian menjalani hal yang sama?
Rama: Kami sih, prinsipnya dari dulu susah senang barang-barang, eh bareng-bareng terus.
Ray: Lagian contohnya aja nih lagu lagu rindu setengah mati kalau nggak ada bass nya juga nggak jadi kan? hehehe.
Rian: Emang iya, kami kan udah ngerasaain susah bareng. Jadi, sekurang penginnya kalau sekarang satu di antara kami kaya, ya mesti kaya semua.
Saya setuju itu. Kaya satu kaya semua. Seperti semboyannya the three musketrees-nya orang inggris, “one for all and all for one”. Saya justru lebih percaya jika uang dan materi sebenarnya Cuma efek dari apa yang d’Masiv lakukan selama ini. Karena pastinya, sejak awal terbentuk dan bertahan sampai sekarang, unsur fun, visi yang sama, plus kecintaan sama musiklah yang jadi energi utama mereka. Kalian bisa membayangkan sendiri cerita kegigighan awal mereka dulu dalam mengejar cita-cita. Demi mendapatkan uang untuk mendaftar ikuta berjuang di festifal band, anak-anak d’Masiv kabarnya juga sempat berlangganan menjadi pengamen di bis jurusan ciledug-blok M. Bisa dibayangkan, jika mereka masih setengah-setengah dan mementingkan gengsi, sepertinya hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi. Para orang tua mereka pun sempat ada yang keki juga gara-gara perilaku anak-anaknya itu. Wajarlah, beda dengan sekarang, kadang orang tua itu suka khawatir dengan masa depan musisi.
Tapi hal sama nggak berlaku buat Rian dan Kiki yang kebetulan punya ayah yang gemar bermain musik sekaligus pernah menjadi musisi cafe. Mereka sangat didukung. Contohny saja rian, sejak umur 3 tahun, vokalis kelahiran 17 november 1986 ini sydah sering di bawa naik turun pamnggung sama ayahnya, Daniel Rajasa. Rian yang waktu itu masih cengeng dan pemalu juga masih agak canggung untuk ber-ekspresi lewat gerakan di atas panggung dan  meski kemampuannya benyanyi mulai di akui ketika menginjak SMP, bakat dan napas panjang bernyanyi rian sebenarnya sudah mulai terlihat dengan prestasinya yang sering memenangkan lomba mengaji dan azan. Tidak bisa dimungkiri, memang, sampai saat ini kualitas vokal khas dan kemampuan rian yang baik dalam membuat lagulah yang salah satu aset penentu kesuksesan d’Masiv.
Salut buat rian untuk semua penciptaan lagu di dalam album ini. By the way apakah kamu masih ingat kapan dan umur berapa pertama kali kamu menulis lagu?. Saya jadi membayangkan situasinya kira-kira seperti apa ya?
Rian:ingetlah.. jadi sikonnya itu pas gue lagi jatuh cinta. Gue masih SMP kelas satu waktu itu..hehehe. Lagunya lucu banget deh pokonya judulnya yang pertama .
Semua: bhuahahahaha.
Hahaha. Pernah punya niat untuk memasukkan lagu itu ke album d’Masiv tidak?Buat bonus track mungkin..
Rian: Kayaknya nggak akan dehh..
Semua: wakakakaka..
Selain lebih leluasa mencari nada vokal, apakah ada kepuasan lain yang kamu dapatkan dari menulis lagu?
Rian: Buat gue bikin lagu itu kayak ungkapan perasaan. Jadi, misalnya gue lagi patah hati, nih daripada gue bunuh diri mendingan bikin lagu, kan? Jadi lagu deh.
Betul! Apalagi bisa dapet rezeki lebih ya?
Rian: hehehe... alhamdulillah. Lebih positif aja jadinya. Misalnya gue lagi gerasaain sesuatu, gue bisa tuangin itu semua dalam bentuk lagu. Selain lagu, dulu itu gue juga suka nulis-nulis puisi. Skarang malah gue udah bisa nulis dari apa yang orang lain rasakan.

MAU lanjutt.. jempolnya donkk


Tidak ada komentar:

Posting Komentar