Selamat malam..
D’Masiv: Selamat malam.
Wuih kompak sekali. Saya suka ini. Hehehe lama juga kita tidak bertemu. Kalau tidak salah terakhir saya bertemu kalian untuk wawancar promo album pertama ya? Dan waktu itu belum se-massive sekarang dong. Bagaimana kabarnya? Sehat kan? “ke belakang” plus ngamennya lancar kan.
Rian: hua haha bisa aja lo mas. Alhamdulillah sehat. Ngamennya juga lancar bangets. Kita sering ketemu kok mas. Nggak selalu pas wawancara lah. Situ saja yang sok sibuk.
Hehehehe, iya yah. Saya bingung dari mana mesti memulai obrolan dengan kalian. Dari sejarah nama band saja kalau begitu.
Rian:halah.. baiklah. Nama d’Masiv sendiri histori awalnya itu adalah usulan teman kami namanya Dian Subiakto (drummer T&T orchestra). Asalnya sih dari bahasa inggris massive, yang punya arti raksasa atau besar-besaran. Karena artinya sendiri bagus, tanpa pikr panjang nama Massive pun di sepakati buat jadi nama band. Nama massive itu terus berubah jadi d’Masiv setelah kami menang ajang kompetesi yang di adain sama perusahaan rokok itu. Tambahan usulan dari label juga. Pertimbangan lainnya adalah karena ternyata udah banyak banget band yang pake nama kayak gitu, baik di indonesia maupun luar negri.
Setelah jadi juara ajang kompetesi cari bakat band baru dan mendapatkan hadiah rekaman dengan musica’s studio, proses apa saja yang mesti kalian lewati saat baru menjalani rekaman dengan mayor label?
Rama: Kami mesti ngelewatin dulu proses bikin demo materi lagu-lagu buat dipilih-pilih sama musica. Dari 16 materi lagu yang kami kasih ke musica, Cuma 3 lagu yang ketrima lho.
Wah ..terus bagaimana menggenapkan sisa lagu yang lain untuk jadi satu album?
Rian: untungnya kami nggak patah semangat dan terus nyicil nyetor lagu sampe 30 lagu. Dari 30 lagu itu , alhamdulillah akhirnya bisa genapin 12 lagu yang kepilih buat ngisi materi di album kami pardana. Setelah workshop materi, rekaman akhirnya bisa terlaksana.
Ada kendala berarti atau cerita-cerita unik nggak ketika kalian mengerjakan album perdana kalian tersebut.
Rama: Nggak ada masalah yang berarti pas kami ngejalanin proses rekaman. Seingat kami sih, lancar-lancar aja kami ngejalaninnya. Cuma si rian aja tuh mungkin ketemu sedikit masalah ketika mau take vokal.
Masalah seperti apa?
Rian: Biasalah selain kondisi flu yang bikin suara gue jadi bindeng, masalah moody yang lagi nggak enak juga datang nyamperin. Setelah take beberapa kali, lagu merindukanmu masih aja nggak bisa keras soul-nya sama gue.
Terus mengatasi masalah itu bagaimana?
Rian: akhirnya ada solusi pindah ke studio milik capung java jive di bandung. Alhamdulillah pindah suasana ke bandung emang mujarab bikin gue ngadepin feel nyanyiin tuh lagu.satu lagu bisa di kerjain 2 jam, jadi sehari bisa dapet 3 lagu. Padahal waktu take di studio musica, jakarta 1 shift (8 jam ) aja nggak cukup buat bisa ngrampungin satu lagu itu.
Kenapa kalian kasih nama perubahan di album perdana kalian?
Rian: Album itu kami kasih judul perubahan karena emang bikin perubahan dalam arti sebenarnya terhadap proses berkarya kami. Selain perubahan nama band, pendewasaan dalam bermusik juga mulai kami rasakan waktu itu. Misalnya saat, zaman ikut-ikut festival dulu kami lebih banyak bawaiin music rock yang progressive. Nah saat bikin album di mayor label .
Hmm.. berati ada sedikit unsur menghilangkan idealisme asli bermusik ya, demi tuntutan pasar.?
Rian: Menurut kami, apa yang kami keluarin sampai saat ini itu tetap idealisme asli bermusik yang kami punya. Kalau ada yang ngomong bahwa sebuah band yang masuk mayor label itu bakal di tekan idealisme bermusik bandnya, sebenarnya sih nggak semua prosesnya jadi kayak gitu. Produser itu sebenarnya Cuma ngarahin apa yang kira kira perlu ditambahin dan meminimalisasikan apa yang nggak perlu. Apa yang keluar tetep dari kami kok. Kalau mau di telusurin penyebab kenapa dulu lebih ng-rock dan sekarang jadi lebih nge-pop penyebabny adalah kebutuhan saat kami berjuang festival itu harus emang bawaain lagu-lagu yang progresif dan secar skill bisa di pamerin buat bisa dapetin nilai plus di mata para juri.
Baiklah saya terima alasannya. Tapi bagaimana soal munculnya isu yang tidak sedap soal plagiarisme pada lagu-lagu di album perdana kalian?
Rian: wah itu lagi. Perasaan dulu di konferensi pers album kedua kami mas iyak pernah nanyaain hal yang sama deh di depan wartawan-wartawan.
Tapi kan sekarang saya ingin konfirmasi lagi?
Rian: he he he... ya udah berarti jawabannya masih sama mas. Kami tuh mungkin terinspirasi saja. Jadi, buka mencontek, meniru, menjiplak atau melakukan plagiat. Di luar kesadaranlah kalau apa yang kami biasa dengerin terbawa pas waktu kami bikin lagu. Kami memang suka sama Switchfoot, incubes, Muse, Lifehouse. Jadi, memang nggak tertutup kemungkinan kalau cara bermain kami juga terpengaruh.
Apa cara yang kalian pakai sekarang supaya hal tersebut tidak terulang lagi?
Rian: ya tetep jadi diri sendiri saja. Apa yang kami bikin di album baru ini memang semampu yang kami bisa. Terserah kembali lagi pada orang yang menilai. Kalu masih ada yang bilang mirip ini atau itu, asal tahu aja kalau kami udah berusaha banget untuk orisinal. Band itu emang mesti sering di kritik kalau mau maju. Untungnya kami, masih tetep bisa usahain seminimal mungkin dengerin karya orang lain. Walaupun kadang ada juga yang nyantol. Yang penting kami tetep berusaha untuk apa adanya.
Tapi, kalian curiga nggak sih kalauisu tersebut sengaja di lempar karena ada pihak yang kurang senang dengan kesuksesan kalian?
Rian: Kayaknya yang begituan mungkin-mungkin terjadi.
Ray: Pro dan kontra itu pasti ada nggak Cuma di indonesia.
Sepertinya sudah cukup membicarakan masalah contek-mencoteknya. Sekarang lebih baik kit amelihat ke depan dan membicarakan soal album terbaru kalian, setuju kan?
D’masiv: setujuuuuu...
Oke, silahkan dimulai dengan bercerita bebas soal apa saja. Masalah penggarapannya atau apalah. Sedikit atau banyak juga tidak apa-apa?
Rama: Kalau secara prosesnya sih lumayan agak berbeda dari album pertama. Soalnya yang sekarang ini kami lebih banyak ngerjainnya di jalan. Di sela-sela tour. Biasannya sih pas abis manggung, kami masuk ke kamar dan ngerjainnya..
Rian: Iya kadang sampe jam lima pagi kami mgerjainnya tuh..
Rama: Makannya kami namain album ini tuh perjalanan. Kalau ngomongin sumbernya juga sekarang agak berbeda. Pengetahuan dan alat-alat kami punya juga udah makin bertambah. Beda sama rekaman yang sebelumnya, waktu itu kami masih banyak pinjem alat.. hehehe. Sekarang karena alat-alat udah lebih lengkap kami tambah fokus dan lebih mikirin album baru ini.
Kalau sedang di jalan seperti itu. Apa sih yang biasa kalian kerjakan di saat senggang untuk mengisi waktu?
Rian: Kalau gue sih biasanya maen gitar. Sama kayak hobi gue dulu waktu masih sering di rumah bikin lagu di kamar.
Why: Plig hunting makanan lokal setempat
Rama: ada juga yang ‘autis’ browsing, internetan di kamar masing-masing.
Rian: Biar se-enak apapun kotanya, biasanya gue lebih seneng diem di kamar. Anak-anak juga begitu deh kayaknya, sama diem di kamar aja.
Pernah nggak di suatu kota menyamar ke luar hotel supaya tidak di kenali orang?
Rian: Paling pas di manado kemaren, gue sempet ke luar buat nyari makanan ikan yang enak. Pake kupluk gitu, tapi tetep aja ketahuan, banyak yang ngikutin dari belakang.
Kalau dari pressure pengerjaanya, lebih berat yang mana, album yang dulu atau album yang sekarang?
Rama: Nggak lah.. nggak ada tuh yang namany tekanan atau pressure. Soalnya kami ngerjainny enjoy aja. Mungkin pas album pertama dulu , kami belum tahu banyak soal dunia rekaman, justru di album kedua ini kami ngerasa lebih lepas ngerjainny. Udah mulai tahu dan mengerti yang mesti di kerjakan.
Kalau penggarapan rekamannya lebih banyak di mana? Studionya capung atau musica?
Rian: kalau, musiknya lebih banyak ngerjainnya di musica. Pas waktu workshop-ny kami ngerjain di studio FX. Semua udah di jadwal sih untuk itu, tapi nggak tahu kenapa buat take vokal tuh gue emang mesti ke bandung. Nggak dapet aja feel-nya kalau di musica. Cocok-cocokan aja sih sebenarny.
Mungkin”jin”-nya, lebih cocok di bandung?
Rian: hihihi.... nggak lah. Masalah mood gue aja kali. Suasananya emang enak di bandung. Karena take-nya kan pas bulan puasa setahun kemaren tuh. Waktu itu aja gue langsung dapet empat lagu sehari.
Berapa lama sih total pengerjaan album ini dari awal workshop sampe slesai?
Rian: tiga bulananlah...
Selain emang banyak jadi di jalanan, ada makna lebih luas nggak kenapa di kasih nama perjalanan?
Rian: Pasti ada. Dari kami yang album pertama udah ngalamin yang namanya perubahan menjadi lebih baik. Kami kepingin perjalanan d’masiv yang sekarang tetap ada di jalurnya nggak pingin mentok disini saja. Pinginnya sih terus berjalan sampe kami bisa ke tempat yang lebih indah.
MAU LANJUUt.. masih panjang lho.....
kaloo mau like donk
Nii lho cover.y bku music score. .
Keren kan!